Sekeranjang Delima ....
Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.
Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.
Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."
Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.
Selasa, 12 Oktober 2010
Selasa, 28 September 2010
Kamu Bilang ....
kamu bilang cari aku ?
kamu bilang butuh aku ?
kamu bilang percayaiku ?
kamu bilang lindungiku ?
kamu bilang setia padaku ?
kamu bilang jujur padaku ?
kamu bilang mendukungku ?
kamu bilang menolongku ?
kamu bilang tak bisa hidup tanpaku ?
kamu bilang tak bisa berpisah denganku ?
kamu bilang akulah terbaik untukmu ?
kamu bilang akulah malaikat pelindungmu ?
kamu bilang kamu harapanku ?
kamu bilang kamu penyanggaku ?
kamu bilang kita satu ?
kamu bilang kita abadi ?
kamu bilang dunia milik kita ?
kamu bilang surga tempat kita ?
kamu bilang sayang ?
kamu bilang cinta ?
B O H O N G !
Rabu, 11 Agustus 2010
Ketika Bulan Terasa Bersahabat di Kota Malang

Saat bulan turun menyapa segenap penghuni
Malam menggelap di dinding hotel Pelangi
Suara azan menggema di pengeras mesjid Jami
Dan lampu berkedip-kedip di simpang sarinah
Menyala suram berbayang di menara gereja Kayutangan
Kau genggam tanganku erat
Bersama melangkah susuri kenangan lampau
Toko oen menyambut ramah
Hantarkan tegukan bir membasahi sukma
Kenangan terus mengalir
Bersama bir yang untuk kesekian gelasnya
Lembah jalan Majapahit memanggil ramah
Ajak kita menyusuri penggalan kehidupan
Yang terasa terus bergulir di jalan menurun seputar Splendid Inn
Alun-Alun Bundar terasa makin melingkar
Saat tanganku mendekap bahu terbukamu yang terhembus angin dingin
Stasiun Kota Baru di hilir tatapan
Masih sibuk menjaga irama
Namun sepi gulita terasa ingin membunuh Simpang Pasar Klojen
Beca kenangan terengah hantarkan penumpang sarat
Susuri rampal yang luas penuh makna
Masuki gelap diantara derap langkah prajurit berjaga
Suara manjamu berderit di roda beca yang memutar pelan
Tetap kudengar merdu menggema
Meski AJG dan MM berlarian keras disekitar kita
Hingga tibalah akhir perjalanan malam
Saat kukecup bibirmu perlahan
Di sudut rumah Bunul yang rimbun dan menutupi kalbu
Wajahmu terlihat memerah
Saat bulan makin bulat memutih
Mesra ku tatap teduh matamu
Bulan kian terasa bersahabat
Dan larikan sinarnya menerangi rumah ini
Di tengah sinarnya yang keras
Bulan mengedip penuh makna
Lalu berbisik pelan
Tepat diujung pendengaranku : “Oyi Ker !”
Selasa, 27 Juli 2010
YANG TERBAIK BAGIKU HANYA ADA SATU, BUKAN DUA
saat kata-kata itu keluar dari celah bibirmu,
melesat jauh melambung
menembus batas-batas wajar,
terdampar pada kenyataan
yang memerihkan hati,
membuat luka menganga disekujur tubuh yang resah.
lalu sekejap cemburu datang
menyelinap dan menonjok segenap ulu hatiku,
membuat mual
menghalangi nafas yang habis terengah,
berlarian tak tentu arah
tanpa kepastian … tanpa alasan.
tiada guna palingkan wajah
sekedar hindari tatap curiga
yang menusuk membuat menggelepar,
tapi bayangmu terus mengikuti
memburuku …
menghanguskan seluruh jejak langkahku,
tanpa bekas tanpa sisa.
dan kamu ….
berhentilah berkata-kata tanpa makna,
jangan lagi kau tebar cemburu
di larutan kehidupan yang bisa meracuniku,
selesaikanlah curiga
yang selalu kau tanam tanpa ada hasil apa-apa …
agar kau tahu :
yang terbaik bagiku hanya ada satu, bukan dua !
: saat kesadaran mendarat mulus di sanubariku
Rabu, 21 Juli 2010
Kau Sudah Tak Ada, Tetapi Tetap Ada
Waktu ku kecil….
Kau gendong aku ajak jalan-jalan
naik delman, bemo atau suburban
kebun binatang, makan baso atau sekedar cuci mata.
Oleh-oleh yang selalu kau bawa sepulang kerja
jadi penantian dan harapan di sela-sela hari ceriaku.
Bersama tiap minggu kita ke gereja
kau selalu sibuk pilihkan baju serta celana
kau aktif setiap perayaan misa
ajari aku kenali yesus dan segenap isi alkitab.
Tapi raut garangmu selalu menamparku
kala aku lalai belajar, bermain terlalu lama
atau bahkan sekedar decapan lidah di meja makan.
Waktu ku remaja….
Kau wajibkan aku selalu baca koran dan majalah
televisi semata hanya berisi berita, film dan drama nomor dua
penuhi ilmu dalam benak dan hidupku.
Bersama kita pernah keliling pulau jawa
naik vespa tua, kau di depan aku di belakang
lihat hal menarik sepanjang jalan, takkan ku lupa.
Sepuluh batang rokok harus ku hisap bersamaan
saat kau hukum aku karena ku mulai merokok.
Dalam kemarahanmu yang meledak-ledak
kau tetap papah aku waktu ku mabuk tuk pertama kali.
Cerita hidupmu bersama perempuan
kujadikan inspirasi saat ku mulai terjebak
Kau menjadi penengah yang arif
ketika aku dan abangku mulai sering berkelahi,
atau saat aku dan ibu mulai sering bersilang pendapat.
Waktu ku dewasa….
Kau bimbing aku menuju jenjang perkawinanku
nasehatmu yang berharga temani aku membesarkan anak-anakku
segala petuahmu menjadi bekalku untuk menemani perjalanan mereka.
13 tahun kau hidup bahagia dalam kelumpuhanmu
yang sama sekali tak menghalangimu tetap berkarya
untuk keluarga, untuk sesama, untuk tuhan dan agama.
Kau tetap sabar kala aku mulai jenuh melayanimu,
atau bahkan tetap marah saat aku lalai dalam kewajibanku.
Bepergian tetap menjadi kesenanganmu yang utama
aku bahagia dan siap untuk mendampingi.
Teh tubruk setia menemani pagi harimu
alkitab kau buka, ayat demi ayat bagai nafas segar
memenuhi rongga kehidupanmu
Kini…
Aku tetap tak merokok
Aku tetap minum walau tak lagi mabuk
Aku tetap ke gereja
Aku tetap menyimak alkitab
Aku tetap menomorsatukan lihat berita
Aku tetap baca koran dan majalah
Aku tetap mengajarkan sopan santun pada anak-anakku
Aku tetap bepergian kemanapun ku suka
Aku tetap mencintai keluargaku
Aku tetap menyayangimu
Aku rindu padamu
Kau sudah tak ada, tapi kau tetap ada ,
disini…. di hati ini.
persembahan sederhana untuk almarhum ayahanda tercinta .... my best man !
Rabu, 14 Juli 2010
MISTERIMU
Kutemui kau di sudut gelap, sendiri, diam memandang hampa lurus ke depan. Dentum musik liar dan kelebatan sinar warna warni tak juga mampu mengusik kesendirianmu. Bau alkohol dan tembakau menyelimuti udara buatan yang terasa makin tipis, beberapa pasang manusia asyik melenguh dalam tarian panas dan liar.
Kau sibak rambut, tampakkan jenjang leher yang putih menantang. Kosong tatapan mata entah siratkan apa. Kau diam ditengah keriuhan, tanpa kata-kata tanpa makna. Gelas yang sendiri telah kosong, hampir terguling. Tak jua kau isi, tak jua kau berdirikan. Gaun merahmu tak menampakkan hasrat, bagai darah, dingin…cair…tak mengalir.
Waktu terus bergerak di keriuhan malam, berkejaran bersama nafas dan nafsu. Kesadaran menguap bersama cairan-cairan di tengah asap-asap kepalsuan dan kemunafikan. Tempo musik kian tajam, tarian makin liar tak terkendali. Gelas berdenting-denting, mulut memaki-maki. Rupiah berputar-putar kencang lalu terdampar dalam kotak penghitung di ketiak sang pemilik.
Kau tetap diam, tak kau jawab sapa rekan yang palsu. Entah sudah berapa gelas yang menemani, entah berapa batang rokok yang kau bakar dan kau lempar dalam asbak. Wajah pucatmu tak sunggingkan senyum, walau canda dan tawa kusodorkan padamu. Kau disini tapi entah dimana. Kau bergaun merah tapi tak ku tahu warna hatimu.
Musik berhenti, malam menyala terang. Enggan orang-orang bergerak pulang. Kau berdiri, masih tetap diam. Bibir pucatmu kecup pipiku. Dalam diam kau tinggalkan aku, gaun merahmu hilang dari pandangan. Sigap pelayan hantarkan nota dan bereskan meja.
Aku diam, terkapar dalam misterimu. Misteri yang memang milikmu.
Selasa, 13 Juli 2010
Jika Cinta Membuat Bahagia

Jika air itu memang harus jatuh menyentuh bumi,
lalu bercipratan membasahi gelapnya malam,
dan embun berarak menghalangi jarak pandang,
serta fatamorgana pun kemudian terasa nyata.
Maka kau barangkali harus tetap di sini,
nyanyikan lagu riang yang sanggup membelah derasnya air yang jatuh,
senandungkan tembang cinta yang mampu enyahkan remang kabut malam,
dan lalu kita berdua akan serentak sorak bahagia,
saat cinta terasa menggerayangi jiwa kita.
Selamat malam cinta ...
biarkan dia hadir dan mengerami telur kebahagiaan
yang memang milik kita berdua !
Selasa, 08 Juni 2010
My Illuminated Discussion
dalam remang cahaya bertukar kata
terjemahkan gambar yang terpatri dalam kepala
posisikan letak agar indah terasa nyata
dalam remang cahaya tunjukkan arti
merekayasa jati diri
lalu terbang mengitari malam mencari lokasi
dalam remang cahaya pastikan tanggungjawab
walau mulut terus menguap
takkan menyerah sebelum menancap !
Kamis, 13 Mei 2010
I POINTED AT YOU…AND YOU’LL BE ON YOUR KNEES SAID I LOVE YOU
asap dupa memenuhi ruang keinginan terpendam
sehelai rambut terselip diantara fotomu yang kumal
mulut berkomat-kamit ucapkan mantera yang menusuk telinga
seribu makhluk halus hadir bawa bayangmu
menari-nari diantara ratusan kembang melayang
terpatri di bilah keris tua nan sakti
kepercayaan bersandar di rambut putih yang wibawa
walau rupiah tetap meraja di atas segalanya
dalam alam yang ganjil ini
kamu bisa tak suka padaku, tapi
kamu harus mencintaiku.
Selasa, 27 April 2010
FILM INDONESIA
kadang hitam, kadang terang, kadang buram, kadang jelas
mata dingin memerah terus menatapi
walau makna tak kunjung singgah di kepala
sulit mengerti saat kata-kata terlontar hilang kendali
kosong melihat saat orang saling menembak tak terarah
diam tercenung saat kelucuan menjemukan tak membuat tawa
lelah raga saat saksikan jagoan mengejar makhluk tak berbentuk
heran rasanya saat bocah berlaku bak orang dewasa
dingin hati saat perempuan bercinta terlihat begitu palsu
harapan menghibur diri mengapa seakan jauh tak tergapai
saat kita melihat film hasil karya anak negeri ?
Rabu, 31 Maret 2010
SEPI MENCEKAM DISEBUAH STASIUN KERETA TUA YANG LELAH

suara peluit panjang sirna menghilang
rangkaian baja sekedar melintas tinggalkan debu
lalu sepi kembali tiba
saat bendera tua terkibas ditangan tua
kau selalu berteman kelam
jam dinding usang nampak sedikit suram
sekedar megah namun terasa semakin kalah
diterjang usia yang makin menghitam
di tengah rel yang berjajar melunglai
sepi makin mencekam
kau terlihat makin lelah !
Jumat, 26 Maret 2010
THE MURDER OF BILLY THE KID

Peluru melesat desing dingin di udara
Bau mesiu penuhi udara malam yang berbau amis
Darah mengalir deras hanyutkan semangat
Kau tembak aku…tepat di ujung bahagia
Gelap menutupi pandang, tersungkur menimpa dendam
Bayang-bayangmu meludah dengki basahi jiwa lelahku
Lelah yang merampas nafas kehidupan
Ujung kakimu tepat bersarang dibatas pendengaranku
Diam tak bersuara…tak tergapai terasa bergerak lambat
Awan putih teduhi langkah menuju kesana
Sayap lembut menjemput bisikkan ajakan mesra
Terimalah aku…walau mungkin tak berharga bagimu
Dalam perjalanan alam maya ini
Sampaikan salam pada keangkuhan dan kekerasan.
Selasa, 23 Maret 2010
Senin, 22 Maret 2010
DICEKAM SEJUMPUT MERDEKA
saat belenggu ketakutan tajam lukai perasaan ibu pertiwi
lalu mengeluarkan darah
dari lubuk hatinya terdalam.
siapakah saudara yang bicara lantang sekali
tentang agama yang begitu suci yang bumbunya penuh benci dendam
menyusupi hati … menggerayangi alam bawah sadar
membisikkan jutaan kata-kata bohong
tetapi terasa begitu mendorong.
lalu sebuah letusan keras menciutkan nyali
sekejap kerling curiga mampir di setiap mata
dan puing-puing nurani runtuh menerpa sanubari
teriak membahana membunuh udara kosong
langkah tegap yang seketika lemah tak berdaya
menggapai sisa udara bersih yang terhirup
di tengah asap debu yang menghalangi pandang
dan sekali lagi seperti biasanya
tinggalkan semua itu saat sibuk orang menembaki
rumah tua milik si orang tua
lalu dengan perkasa mewartakannya
kesegenap penjuru Negara
sambil pura-pura lupa mengakui segala alpa.
dalam belantara ujung barat nusantara
menggerombol siapkan rencana
lalu kabur berlari saat puluhan senjata mencegat
dan di ibukota, di sebelah warung maya
ditengah kampung padat saat mentari merambat naik
darah mengalir di atas aspal
sepasang manusia terjerembab
saat lelah mencari hampir sirna
dan sepasang kepala bernilai hampir sebuah Negara.
siapakah dia yang kemudian membeberkan sejuta rencana
dilayar kaca saat senja hampir tiba
merasa seakan akrab
lalu lari ketika kemesraan berubah curiga
ditengah carut marut negeri yang terluka
disela riuh orang memaki sekaligus menghormati
resah aku selalu mengharap …
hanya sejumput saja yang ingin kugenggam
namun angin menerbangkannya,
entah kemana …..
entah sampai kapan …..
Sabtu, 20 Maret 2010
AKU BEGINI, KAU BEGITU

saat jarum jam mulai lelah berdetak,
ketika batas akhir petualangan hidup hari ini
sudah menjelma mata,
kau diam...bisu tak berkata
hanya buliran air terjebak di ujung sudut penglihatan
dan tekanan yang kian menghimpit
seakan ingin membuncah teriakan kecewa.
selama degupan kencang terus berdentam dalam pikiranku,
selama emosi terus meraja dalam hasratmu
aku begini, karena kau begitu !
aku tetap disini, karena kaupun tetap disitu !
………
hingga akhir jalur rel derita kita ini
akan bertemu…
jauh di fatamorgana !
Rabu, 17 Maret 2010
JIKA KU DIPAKSA BERBUAT
malam basah temani langkah-langkah kecilmu
daun-daun gemerisik sibuk berbisik dekat telinga hati
baju merah basahmu tak ganggu arah tujuan
kau tegakkan kepala walau remuk redam jiwa
berjuta genderang menggema di urat nadimu
ketukan cepat darah menghujam jantung
‘pasti…kau kutemukan’.
malam makin kelam dan licin
sekejap jejak rumah menyala terang
harap cemas temukan kau disitu
hujan makin kejam menerpa tubuhmu
langkah makin cepat kau kejar
akhirnya pintu besi menyapa kurang ramah
deritnya terasa membangunkan dunia
‘kuyakin…kau disini’
daun pintu tak terkunci terbuka deru angin malam
sepatu miliknya terkapar lunglai dimuka pintu kamar
kamar yang menyisakan dendam
karena dia kembali walau telah berjanji
gemuruh keras ketukanmu kabarkan marah
tubuh-tubuh telanjang terjerembab tak berdaya
deru nafas kau atur, ludah kau semburkan, lalu berkata pelan
‘bangsat…kubunuh kau’
Selasa, 16 Maret 2010
THE MIDNIGHT BLUES OF ME
jalan menanjak kususuri tak bertenaga
mata tajam kusiapkan, ingin tangkap bayangmu
dimanapun kau berada
namun kau tak kunjung singgah
di sudut-sudut penglihatanku.
malam meninggi, dingin menusuk dalam tulang
tanya penjaga, yang cepat menggeleng dalam kantuk
putar kepala, coba kenali sosokmu
diantara keseragaman kerumunan manusia
yang tergagap bicara
di pinggir jalan menanjak nan dingin itu.
gelap makin hitam, bulan bersembunyi malu,
jarum jam berputar kencang, kau tetap tak kukenali
lalu aku tersudut di depan penjaja yang menyapa ramah
wajah-wajah lelah nan bahagia kutanya,
wajah-wajah belia di usia muda diam tak bersuara
aku lemah dan mengaku kalah
bahkan waktupun tanpa sungkan menonjok keras ulu hatiku
hampir pagi…
jalan menurun aku jalani dalam lamunan
mataku penat, tak kulihat lubang besar menganga
guncangan keras seakan ingatkan aku
lalu …. dimanakah kau ?
you’ve been missed for a while
