Sekeranjang Delima ....

Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.

Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.

Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."

Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.

Rabu, 21 Juli 2010

Kau Sudah Tak Ada, Tetapi Tetap Ada

Waktu ku kecil….

Kau gendong aku ajak jalan-jalan

naik delman, bemo atau suburban

kebun binatang, makan baso atau sekedar cuci mata.

Oleh-oleh yang selalu kau bawa sepulang kerja

jadi penantian dan harapan di sela-sela hari ceriaku.

Bersama tiap minggu kita ke gereja

kau selalu sibuk pilihkan baju serta celana

kau aktif setiap perayaan misa

ajari aku kenali yesus dan segenap isi alkitab.

Tapi raut garangmu selalu menamparku

kala aku lalai belajar, bermain terlalu lama

atau bahkan sekedar decapan lidah di meja makan.


Waktu ku remaja….

Kau wajibkan aku selalu baca koran dan majalah

televisi semata hanya berisi berita, film dan drama nomor dua

penuhi ilmu dalam benak dan hidupku.

Bersama kita pernah keliling pulau jawa

naik vespa tua, kau di depan aku di belakang

lihat hal menarik sepanjang jalan, takkan ku lupa.

Sepuluh batang rokok harus ku hisap bersamaan

saat kau hukum aku karena ku mulai merokok.

Dalam kemarahanmu yang meledak-ledak

kau tetap papah aku waktu ku mabuk tuk pertama kali.

Cerita hidupmu bersama perempuan

kujadikan inspirasi saat ku mulai terjebak asmara.

Kau menjadi penengah yang arif

ketika aku dan abangku mulai sering berkelahi,

atau saat aku dan ibu mulai sering bersilang pendapat.


Waktu ku dewasa….

Kau bimbing aku menuju jenjang perkawinanku

nasehatmu yang berharga temani aku membesarkan anak-anakku

segala petuahmu menjadi bekalku untuk menemani perjalanan mereka.

13 tahun kau hidup bahagia dalam kelumpuhanmu

yang sama sekali tak menghalangimu tetap berkarya

untuk keluarga, untuk sesama, untuk tuhan dan agama.

Kau tetap sabar kala aku mulai jenuh melayanimu,

atau bahkan tetap marah saat aku lalai dalam kewajibanku.

Bepergian tetap menjadi kesenanganmu yang utama

aku bahagia dan siap untuk mendampingi.

Teh tubruk setia menemani pagi harimu

alkitab kau buka, ayat demi ayat bagai nafas segar

memenuhi rongga kehidupanmu


Kini…

Aku tetap tak merokok

Aku tetap minum walau tak lagi mabuk

Aku tetap ke gereja

Aku tetap menyimak alkitab

Aku tetap menomorsatukan lihat berita

Aku tetap baca koran dan majalah

Aku tetap mengajarkan sopan santun pada anak-anakku

Aku tetap bepergian kemanapun ku suka

Aku tetap mencintai keluargaku

Aku tetap menyayangimu

Aku rindu padamu


Kau sudah tak ada, tapi kau tetap ada ,

disini…. di hati ini.


persembahan sederhana untuk almarhum ayahanda tercinta .... my best man !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar