Sekeranjang Delima ....

Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.

Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.

Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."

Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.

Rabu, 11 Agustus 2010

Ketika Bulan Terasa Bersahabat di Kota Malang


Saat bulan turun menyapa segenap penghuni kota singa

Malam menggelap di dinding hotel Pelangi

Suara azan menggema di pengeras mesjid Jami

Dan lampu berkedip-kedip di simpang sarinah

Menyala suram berbayang di menara gereja Kayutangan


Kau genggam tanganku erat

Bersama melangkah susuri kenangan lampau

Toko oen menyambut ramah

Hantarkan tegukan bir membasahi sukma


Kenangan terus mengalir

Bersama bir yang untuk kesekian gelasnya

Lembah jalan Majapahit memanggil ramah

Ajak kita menyusuri penggalan kehidupan

Yang terasa terus bergulir di jalan menurun seputar Splendid Inn


Alun-Alun Bundar terasa makin melingkar

Saat tanganku mendekap bahu terbukamu yang terhembus angin dingin

Stasiun Kota Baru di hilir tatapan

Masih sibuk menjaga irama kota yang sesaat lagi kan tenggelam


Namun sepi gulita terasa ingin membunuh Simpang Pasar Klojen

Beca kenangan terengah hantarkan penumpang sarat asmara

Susuri rampal yang luas penuh makna

Masuki gelap diantara derap langkah prajurit berjaga

Suara manjamu berderit di roda beca yang memutar pelan

Tetap kudengar merdu menggema

Meski AJG dan MM berlarian keras disekitar kita


Hingga tibalah akhir perjalanan malam

Saat kukecup bibirmu perlahan

Di sudut rumah Bunul yang rimbun dan menutupi kalbu

Wajahmu terlihat memerah

Saat bulan makin bulat memutih


Mesra ku tatap teduh matamu

Bulan kian terasa bersahabat

Dan larikan sinarnya menerangi rumah ini

Kota terasa makin indah.


Di tengah sinarnya yang keras

Bulan mengedip penuh makna

Lalu berbisik pelan

Tepat diujung pendengaranku : “Oyi Ker !”