Sekeranjang Delima ....
Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.
Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.
Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."
Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.
Senin, 22 Maret 2010
DICEKAM SEJUMPUT MERDEKA
saat belenggu ketakutan tajam lukai perasaan ibu pertiwi
lalu mengeluarkan darah
dari lubuk hatinya terdalam.
siapakah saudara yang bicara lantang sekali
tentang agama yang begitu suci yang bumbunya penuh benci dendam
menyusupi hati … menggerayangi alam bawah sadar
membisikkan jutaan kata-kata bohong
tetapi terasa begitu mendorong.
lalu sebuah letusan keras menciutkan nyali
sekejap kerling curiga mampir di setiap mata
dan puing-puing nurani runtuh menerpa sanubari
teriak membahana membunuh udara kosong
langkah tegap yang seketika lemah tak berdaya
menggapai sisa udara bersih yang terhirup
di tengah asap debu yang menghalangi pandang
dan sekali lagi seperti biasanya
tinggalkan semua itu saat sibuk orang menembaki
rumah tua milik si orang tua
lalu dengan perkasa mewartakannya
kesegenap penjuru Negara
sambil pura-pura lupa mengakui segala alpa.
dalam belantara ujung barat nusantara
menggerombol siapkan rencana
lalu kabur berlari saat puluhan senjata mencegat
dan di ibukota, di sebelah warung maya
ditengah kampung padat saat mentari merambat naik
darah mengalir di atas aspal
sepasang manusia terjerembab
saat lelah mencari hampir sirna
dan sepasang kepala bernilai hampir sebuah Negara.
siapakah dia yang kemudian membeberkan sejuta rencana
dilayar kaca saat senja hampir tiba
merasa seakan akrab
lalu lari ketika kemesraan berubah curiga
ditengah carut marut negeri yang terluka
disela riuh orang memaki sekaligus menghormati
resah aku selalu mengharap …
hanya sejumput saja yang ingin kugenggam
namun angin menerbangkannya,
entah kemana …..
entah sampai kapan …..
my lovely ... my poor lovely country !
BalasHapus