Sekeranjang Delima ....

Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.

Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.

Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."

Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.

Sabtu, 23 Juli 2011

SIAPAKAH KAMU ?

siapakah kamu ...
yang tiba-tiba memenuhi ruang dalam hariku
bergerak-gerak liar dalam seluruh imajinasiku
menghantar mimpi saat malam menerjang
membuat gelak panjang walau resah tengah meraja
menggantungku dalam sebuah kebiasaan baru
membuat jiwaku terus merasa biru ...

siapakah kamu ...
yang hadir dari masa lalu
walau tak terjelma wajah saat belia
tak tercerna sebuah nama dalam kepala
mengaku kerabat dari seorang kerabat
dan tinggal bersama orang yang kukenal dekat
jejak penasaran terus tak pernah terjawab ...

hingga jabat tangan tergenggam erat
hingga rokokmu yang kesekian batang habis dalam pembicaraan
hingga sapaan terus menjelma di hari-hari berjalan
hingga sebuah kerinduan menjalar diurat nadiku
hingga kata-kata ini terangkai
aku tak pernah tahu
siapakah kamu ?

Selasa, 28 September 2010

Kamu Bilang ....

kamu bilang cari aku ?

kamu bilang butuh aku ?

kamu bilang percayaiku ?

kamu bilang lindungiku ?

kamu bilang setia padaku ?

kamu bilang jujur padaku ?

kamu bilang mendukungku ?

kamu bilang menolongku ?

kamu bilang tak bisa hidup tanpaku ?

kamu bilang tak bisa berpisah denganku ?

kamu bilang akulah terbaik untukmu ?

kamu bilang akulah malaikat pelindungmu ?

kamu bilang kamu harapanku ?

kamu bilang kamu penyanggaku ?

kamu bilang kita satu ?

kamu bilang kita abadi ?

kamu bilang dunia milik kita ?

kamu bilang surga tempat kita ?

kamu bilang sayang ?

kamu bilang cinta ?

B O H O N G !

Rabu, 11 Agustus 2010

Ketika Bulan Terasa Bersahabat di Kota Malang


Saat bulan turun menyapa segenap penghuni kota singa

Malam menggelap di dinding hotel Pelangi

Suara azan menggema di pengeras mesjid Jami

Dan lampu berkedip-kedip di simpang sarinah

Menyala suram berbayang di menara gereja Kayutangan


Kau genggam tanganku erat

Bersama melangkah susuri kenangan lampau

Toko oen menyambut ramah

Hantarkan tegukan bir membasahi sukma


Kenangan terus mengalir

Bersama bir yang untuk kesekian gelasnya

Lembah jalan Majapahit memanggil ramah

Ajak kita menyusuri penggalan kehidupan

Yang terasa terus bergulir di jalan menurun seputar Splendid Inn


Alun-Alun Bundar terasa makin melingkar

Saat tanganku mendekap bahu terbukamu yang terhembus angin dingin

Stasiun Kota Baru di hilir tatapan

Masih sibuk menjaga irama kota yang sesaat lagi kan tenggelam


Namun sepi gulita terasa ingin membunuh Simpang Pasar Klojen

Beca kenangan terengah hantarkan penumpang sarat asmara

Susuri rampal yang luas penuh makna

Masuki gelap diantara derap langkah prajurit berjaga

Suara manjamu berderit di roda beca yang memutar pelan

Tetap kudengar merdu menggema

Meski AJG dan MM berlarian keras disekitar kita


Hingga tibalah akhir perjalanan malam

Saat kukecup bibirmu perlahan

Di sudut rumah Bunul yang rimbun dan menutupi kalbu

Wajahmu terlihat memerah

Saat bulan makin bulat memutih


Mesra ku tatap teduh matamu

Bulan kian terasa bersahabat

Dan larikan sinarnya menerangi rumah ini

Kota terasa makin indah.


Di tengah sinarnya yang keras

Bulan mengedip penuh makna

Lalu berbisik pelan

Tepat diujung pendengaranku : “Oyi Ker !”

Selasa, 27 Juli 2010

YANG TERBAIK BAGIKU HANYA ADA SATU, BUKAN DUA

kadang tak masuk dalam logikaku
saat kata-kata itu keluar dari celah bibirmu,
melesat jauh melambung
menembus batas-batas wajar,
terdampar pada kenyataan
yang memerihkan hati,
membuat luka menganga disekujur tubuh yang resah.

lalu sekejap cemburu datang
menyelinap dan menonjok segenap ulu hatiku,
membuat mual
menghalangi nafas yang habis terengah,
berlarian tak tentu arah
tanpa kepastian … tanpa alasan.

tiada guna palingkan wajah
sekedar hindari tatap curiga
yang menusuk membuat menggelepar,
tapi bayangmu terus mengikuti
memburuku …
menghanguskan seluruh jejak langkahku,
tanpa bekas tanpa sisa.

dan kamu ….
berhentilah berkata-kata tanpa makna,
jangan lagi kau tebar cemburu
di larutan kehidupan yang bisa meracuniku,
selesaikanlah curiga
yang selalu kau tanam tanpa ada hasil apa-apa …
agar kau tahu :
yang terbaik bagiku hanya ada satu, bukan dua !


: saat kesadaran mendarat mulus di sanubariku

Rabu, 21 Juli 2010

Kau Sudah Tak Ada, Tetapi Tetap Ada

Waktu ku kecil….

Kau gendong aku ajak jalan-jalan

naik delman, bemo atau suburban

kebun binatang, makan baso atau sekedar cuci mata.

Oleh-oleh yang selalu kau bawa sepulang kerja

jadi penantian dan harapan di sela-sela hari ceriaku.

Bersama tiap minggu kita ke gereja

kau selalu sibuk pilihkan baju serta celana

kau aktif setiap perayaan misa

ajari aku kenali yesus dan segenap isi alkitab.

Tapi raut garangmu selalu menamparku

kala aku lalai belajar, bermain terlalu lama

atau bahkan sekedar decapan lidah di meja makan.


Waktu ku remaja….

Kau wajibkan aku selalu baca koran dan majalah

televisi semata hanya berisi berita, film dan drama nomor dua

penuhi ilmu dalam benak dan hidupku.

Bersama kita pernah keliling pulau jawa

naik vespa tua, kau di depan aku di belakang

lihat hal menarik sepanjang jalan, takkan ku lupa.

Sepuluh batang rokok harus ku hisap bersamaan

saat kau hukum aku karena ku mulai merokok.

Dalam kemarahanmu yang meledak-ledak

kau tetap papah aku waktu ku mabuk tuk pertama kali.

Cerita hidupmu bersama perempuan

kujadikan inspirasi saat ku mulai terjebak asmara.

Kau menjadi penengah yang arif

ketika aku dan abangku mulai sering berkelahi,

atau saat aku dan ibu mulai sering bersilang pendapat.


Waktu ku dewasa….

Kau bimbing aku menuju jenjang perkawinanku

nasehatmu yang berharga temani aku membesarkan anak-anakku

segala petuahmu menjadi bekalku untuk menemani perjalanan mereka.

13 tahun kau hidup bahagia dalam kelumpuhanmu

yang sama sekali tak menghalangimu tetap berkarya

untuk keluarga, untuk sesama, untuk tuhan dan agama.

Kau tetap sabar kala aku mulai jenuh melayanimu,

atau bahkan tetap marah saat aku lalai dalam kewajibanku.

Bepergian tetap menjadi kesenanganmu yang utama

aku bahagia dan siap untuk mendampingi.

Teh tubruk setia menemani pagi harimu

alkitab kau buka, ayat demi ayat bagai nafas segar

memenuhi rongga kehidupanmu


Kini…

Aku tetap tak merokok

Aku tetap minum walau tak lagi mabuk

Aku tetap ke gereja

Aku tetap menyimak alkitab

Aku tetap menomorsatukan lihat berita

Aku tetap baca koran dan majalah

Aku tetap mengajarkan sopan santun pada anak-anakku

Aku tetap bepergian kemanapun ku suka

Aku tetap mencintai keluargaku

Aku tetap menyayangimu

Aku rindu padamu


Kau sudah tak ada, tapi kau tetap ada ,

disini…. di hati ini.


persembahan sederhana untuk almarhum ayahanda tercinta .... my best man !

Rabu, 14 Juli 2010

MISTERIMU

Kutemui kau di sudut gelap, sendiri, diam memandang hampa lurus ke depan. Dentum musik liar dan kelebatan sinar warna warni tak juga mampu mengusik kesendirianmu. Bau alkohol dan tembakau menyelimuti udara buatan yang terasa makin tipis, beberapa pasang manusia asyik melenguh dalam tarian panas dan liar.


Kau sibak rambut, tampakkan jenjang leher yang putih menantang. Kosong tatapan mata entah siratkan apa. Kau diam ditengah keriuhan, tanpa kata-kata tanpa makna. Gelas yang sendiri telah kosong, hampir terguling. Tak jua kau isi, tak jua kau berdirikan. Gaun merahmu tak menampakkan hasrat, bagai darah, dingin…cair…tak mengalir.


Waktu terus bergerak di keriuhan malam, berkejaran bersama nafas dan nafsu. Kesadaran menguap bersama cairan-cairan di tengah asap-asap kepalsuan dan kemunafikan. Tempo musik kian tajam, tarian makin liar tak terkendali. Gelas berdenting-denting, mulut memaki-maki. Rupiah berputar-putar kencang lalu terdampar dalam kotak penghitung di ketiak sang pemilik.


Kau tetap diam, tak kau jawab sapa rekan yang palsu. Entah sudah berapa gelas yang menemani, entah berapa batang rokok yang kau bakar dan kau lempar dalam asbak. Wajah pucatmu tak sunggingkan senyum, walau canda dan tawa kusodorkan padamu. Kau disini tapi entah dimana. Kau bergaun merah tapi tak ku tahu warna hatimu.


Musik berhenti, malam menyala terang. Enggan orang-orang bergerak pulang. Kau berdiri, masih tetap diam. Bibir pucatmu kecup pipiku. Dalam diam kau tinggalkan aku, gaun merahmu hilang dari pandangan. Sigap pelayan hantarkan nota dan bereskan meja.


Aku diam, terkapar dalam misterimu. Misteri yang memang milikmu.