
Saat bulan turun menyapa segenap penghuni
Malam menggelap di dinding hotel Pelangi
Suara azan menggema di pengeras mesjid Jami
Dan lampu berkedip-kedip di simpang sarinah
Menyala suram berbayang di menara gereja Kayutangan
Kau genggam tanganku erat
Bersama melangkah susuri kenangan lampau
Toko oen menyambut ramah
Hantarkan tegukan bir membasahi sukma
Kenangan terus mengalir
Bersama bir yang untuk kesekian gelasnya
Lembah jalan Majapahit memanggil ramah
Ajak kita menyusuri penggalan kehidupan
Yang terasa terus bergulir di jalan menurun seputar Splendid Inn
Alun-Alun Bundar terasa makin melingkar
Saat tanganku mendekap bahu terbukamu yang terhembus angin dingin
Stasiun Kota Baru di hilir tatapan
Masih sibuk menjaga irama
Namun sepi gulita terasa ingin membunuh Simpang Pasar Klojen
Beca kenangan terengah hantarkan penumpang sarat
Susuri rampal yang luas penuh makna
Masuki gelap diantara derap langkah prajurit berjaga
Suara manjamu berderit di roda beca yang memutar pelan
Tetap kudengar merdu menggema
Meski AJG dan MM berlarian keras disekitar kita
Hingga tibalah akhir perjalanan malam
Saat kukecup bibirmu perlahan
Di sudut rumah Bunul yang rimbun dan menutupi kalbu
Wajahmu terlihat memerah
Saat bulan makin bulat memutih
Mesra ku tatap teduh matamu
Bulan kian terasa bersahabat
Dan larikan sinarnya menerangi rumah ini
Di tengah sinarnya yang keras
Bulan mengedip penuh makna
Lalu berbisik pelan
Tepat diujung pendengaranku : “Oyi Ker !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar