Sekeranjang Delima ....

Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.

Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.

Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."

Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.

Kamis, 06 Agustus 2009

Berubahlah Sebab Sesungguhnya Aku Menyayangimu


Semakin tenggelam dirimu dalam lautan ketidakpastian
beban tanggung jawab kau lempar jauh
tak hirau pada raga yang kian merapuh
sementara usia kian bergerak senja
kesadaran diri kian menipis,
nyaris tak terasa sendiri kau bawa diri
dalam sebuah drama tanpa skenario
carut marut adegan tak berisi,
tak menyenangkan hati.

Hidup kau jalani sendiri,
tak ada keluarga yang menemani
tak sanggup mengerti apa yang kau ingini
kawan hidup semakin jauh tak terbayangkan
sebab kau memang menjauh dan tak berhasrat
kau isi hari-hari dengan cairan semangat palsu kosong,
tak ada yang terpikir dalam ketinggianmu.

Bagaimana nasib ini berakhir
tak masuk dalam rencanamu yang kacau
bagaimana hidup ini dapat berjalan
tak ada dalam agenda hidupmu yang tak jelas
semua kau lebur dalam sebuah kebodohan
Tuhan semakin tak berbentuk dalam dirimu
lupa bahwa ada hari tuk muliakan namaNya
yang selalu kau isi dengan ritual-ritual bodoh yang itu-itu saja.

Aku tak sanggup lagi mendukungmu
bahkan sekedar memegangmu pun aku tak mampu
jalani hidup bersama isteri dan anakku pun aku merasa berat
jangan kebodohan itu kau bebankan juga padaku
tanggung akibat-akibatmu sendiri saja
tak kuat aku bertahan dalam irama yang tak jelas ini.

Kuburmu pun hanya untukmu sendiri kelak
berubahlah walau sudah terlambat
di penghujung waktu harusnya hidup lebih bermakna
sehingga nisanmu akan berhias indah
tak sekedar angka 0 besar yang terpahat di sana.


hidup harus dijalani, bukan sekedar melewati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar