Sekeranjang Delima ....
Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.
Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.
Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."
Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.
Selasa, 04 Agustus 2009
Antara Aku, Kau, Bapakmu dan Tai Kucing
Tiga batang jisamsu tandas tak berbekas. Wajah manismu tak jua datang menyapa. Bosan, malas, semua terkalahkan oleh asmara. HP lembut bergetar dalam saku celana, gembira sangka kau yang akan bicara. Ajakan teman yang menggoda segera kutolak ingat senyum manismu. Hubungan terputus, segera kutekan tombol 081223426xx itu nomormu. Lagu peterpan menggema di telingaku, itu nada sambungmu. Lagu tetap lagu tak jua menjelma suaramu. Penjaga warung tersenyum lihat anak muda menggelepar kena panah asmara. Kuhubungi lagi, lagu peterpan lagi. Lama berlalu, akhirnya lagu berhenti. Gembira segera kulontarkan kata lembut menyapa. Tapi suara manismu berubah menjadi suara garang bapakmu. HP dirampas, aku tak boleh menemuimu lagi.
Kandas harapan ini, lemah terduduk perlahan. Penjaga warung tahu, tawarkan lagi sebatang jisamsu sebagai rasa simpati. Aku tahu bapakmu tak setuju padaku, kamu tahu aku dibenci bapakmu. Tapi cinta kita sudah tumbuh menjelma, tak mungkin terlawankan, tak mungkin dihalangi lagi. Jisamsu simpati kembali bangkitkan rasa percaya diri. Melangkah pulang, tinggalkan warung di simpang jalan. Bayar tiga batang jisamsu, dan ucapan terimakasih untuk satu batang simpati. Penjaga warung lega, wajah kusut penuh asmara segera berlalu.
Jam delapan lewat dua puluh delapan, tumbuh satu keyakinan. Kuyakin suatu hari nanti, aku akan bawa kau untuk lari dari kenyataan yang menyakitkan ini. Aku akan bimbing kau dalam hidup yang penuh cinta.
Hanya kau dan aku, tanpa bapakmu, tanpa siapapun.
Kita akan berenang bebas di samudera raya dalam lekatan cinta,
sebab kalau cinta sudah melekat…
tai kucing terasa coklat.
salah satu episode karma dalam kehidupanku, dahulu aku si pemuda ji sam su kini aku jadi bapak berwajah garang. nasib...
thanks to iwan fals & gombloh for inspirational words
Tidak ada komentar:
Posting Komentar