Sekeranjang Delima ....

Tanpa kusadari telah banyak puisi yang kubuat di sepanjang jalan kehidupanku ini, aku ingin mengumpulkannya dan berbagi dengan kamu semua. Berbagi pengalaman hidup dimana barangkali ada hikmah-hikmah tersembunyi yang dapat kamu ambil dari barisan kata-kata puisiku atau barangkali malah hanya sekedar barisan kata-kata indah tak bermakna.

Puisi-puisiku adalah murni refleksi diriku, dengan begitu barangkali kamu bisa lebih mengenal dan mendalami siapakah sebenarnya sosok seorang Mahdie Quintana itu. Sebab dengan mengenalku maka aku berharap kamupun dapat berbagi kehidupan ini bersamaku, bersama mengarungi kehidupan yang terasa kian berat dijejali berbagai masalah yang menerpa.

Akhir kata, aku dedikasikan seluruh puisi ini terutama untuk orang tua, isteri, anak-anakku, dan semua yang menyenangi dan dapat memahami sajak dan puisi, karena sekali lagi puisi adalah refleksi dari seluruh peristiwa kehidupan kita yang sedang berjalan ini. Terutama untuk kamu : "karena kamulah aku merangkai kata, kamu adalah inspirasiku ..."

Selamat menikmati sambil tetap berpikiran merdeka.

Rabu, 14 Juli 2010

MISTERIMU

Kutemui kau di sudut gelap, sendiri, diam memandang hampa lurus ke depan. Dentum musik liar dan kelebatan sinar warna warni tak juga mampu mengusik kesendirianmu. Bau alkohol dan tembakau menyelimuti udara buatan yang terasa makin tipis, beberapa pasang manusia asyik melenguh dalam tarian panas dan liar.


Kau sibak rambut, tampakkan jenjang leher yang putih menantang. Kosong tatapan mata entah siratkan apa. Kau diam ditengah keriuhan, tanpa kata-kata tanpa makna. Gelas yang sendiri telah kosong, hampir terguling. Tak jua kau isi, tak jua kau berdirikan. Gaun merahmu tak menampakkan hasrat, bagai darah, dingin…cair…tak mengalir.


Waktu terus bergerak di keriuhan malam, berkejaran bersama nafas dan nafsu. Kesadaran menguap bersama cairan-cairan di tengah asap-asap kepalsuan dan kemunafikan. Tempo musik kian tajam, tarian makin liar tak terkendali. Gelas berdenting-denting, mulut memaki-maki. Rupiah berputar-putar kencang lalu terdampar dalam kotak penghitung di ketiak sang pemilik.


Kau tetap diam, tak kau jawab sapa rekan yang palsu. Entah sudah berapa gelas yang menemani, entah berapa batang rokok yang kau bakar dan kau lempar dalam asbak. Wajah pucatmu tak sunggingkan senyum, walau canda dan tawa kusodorkan padamu. Kau disini tapi entah dimana. Kau bergaun merah tapi tak ku tahu warna hatimu.


Musik berhenti, malam menyala terang. Enggan orang-orang bergerak pulang. Kau berdiri, masih tetap diam. Bibir pucatmu kecup pipiku. Dalam diam kau tinggalkan aku, gaun merahmu hilang dari pandangan. Sigap pelayan hantarkan nota dan bereskan meja.


Aku diam, terkapar dalam misterimu. Misteri yang memang milikmu.



1 komentar:

  1. takjub sekaligus takut terjebak kembali dalam genangan memori masa lampauku ....

    BalasHapus